Translate

Kamis, 05 September 2013

(TUGAS) Profile STMIK AKAKOM

Profile STMIK AKAKOM


Dalam abad ke-20 ini dunia banyak diwarnai dengan berbagai kemajuan secara menakjubkan yang telah diciptakan oleh umat manusia, baik dibidang ilmu maupun teknologi. Menanggapi kondisi zaman seperti tersebut di atas, pada tanggal 30 Juni 1979 didirikan sebuah yayasan dengan nama Yayasan Pendidikan Widya Bakti, yang bertujuan mengembangkan dan menyebarluaskan informatika dan teknologi komputer di kalangan masyarakat indonesia melalui usaha pendidikan yang sistematis dan ilmiah. Yayasan tersebut mengelola sebuah akademi yang bernama Akademi Aplikasi Komputer, disingkat AKAKOM.

Terhitung mulai 1 Maret 1983, Akademi Aplikasi Komputer(AKAKOM), diubah menjadi Akademi Komputer dan Informatika AKAKOM. Selanjutnya terhitung mulai tanggal 2 Mei 1985, nama Akademi Komputer dan Informatika AKAKOM diubah dan dibakukan menjadi Akademi Manajemen Informatika dan Komputer(AMIK)AKAKOM.

Agar lembaga tersebut mampu menghasilkan tenaga-tenaga profesional maupun akademik yang lebih berbobot dalam bidang informatika dan komputer, maka sejak tanggal 8 Juni 1992, berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 262/DIKTI/Kep/1992, AMIK AKAKOM diubah bentuknya menjadi Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) AKAKOM yang membuka program sarjana dan program diploma.

Saat ini program sarjana mempunyai program stusi Teknik Informatika dan Sistem Informasi dengan status akreditasi B dan pada program diploma mempunyai 3 program studi yaitu Manajemen Informatika (status Akreditasi B), Teknik Komputer(status Akreditasi C), dan Komputerisasi Akuntansi (status Akreditasi B).

Jumat, 30 Agustus 2013

Kekasihmu Mantanku


Bel panjang SMK Pengasih sudah lama berhenti berdering. Lingkungan sekolah juga sudah nyaris sepi, hanya beberapa anak yang masih berjalan terburu-buru melintasi koridor-koridor menuju kantin. Mereka pastinya siswa-siswa jurusan Teknik Komputer yang akan mengadakan praktik kejurusan.
Freya berjalan menuju bangku ditengah taman sekolah. Bangku itu ada tepat dibawah pohon flamboyan. Ia duduk dan memandang langit cerah diatasnya.
Ia lalu memejamkan mata menikmati hembusan angin sepoi yang menebarkan aroma aneka bunga. Dan segera membuka kelopak matanya ketika seseorang menepuk bahunya.
“ Hai, Freya. Sedang memikirkan apa?” tanya Saski, teman sebangkunya. Ia lalu duduk di sebelah Freya dan menatapnya dengan serius.
“Tidak ada. Hanya menenangkan diri,” jawab Freya sambil membuka tasnya untuk mengeluarkan kotak makan siangnya.” Mau kue ?”
“Hehehe... Siapa yang tidak mau kue enak gratis?”, Saski mengambil sepotong kue dari kotak yang disodorkan Freya. “Menenangkan diri, kah? Sementara, kau menawarkan ‘obat penenangmu’ kepadaku.” Saski memakan potongan kue itu dengan lahap.
“Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan padaku?” tanya Saski, tiba-tiba. Saski memandang Freya, penasaran.
“Ini... Bacalah...” jawab Freya, mengulurkan poselnya.
Saski membaca pesan-pesan diponsel itu itu dengan wajah keheranan.
“Pesan mengerikan apa ini?” tanya Saski, ia memandang Freya dengan tatapan tajam. “ Dia memutuskanmu... ? Karena, dia sudah dijodohkan oleh ibunya?”
Saski terlihat berusaha keras menyembunyikan tawanya. Freya memandang Saski dengan jengkel.
“Kalau mau tertawa... Tertawa saja.” ujar Freya ketus.
“Kenapa dia tidak menjelaskan langsung?,“ tanya Saski, mengabaikan Freya.
“Dia diluar kota. Aku kan sudah pernah memberitahumu?” jawab Freya, mengambil kembali ponselnya dan memasukkannya kedalam saku seragamnya.
Freya baru saja memasukkan bekal kosongnya kedalam tasnya ketika Wita berjalan dengan riang menghampiri mereka. Senyumnya tampak jelas terkembang.
“Ada apa? Kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Saski, keheranan tetapi ikut tersenyum-senyum juga.  
“Aaahhhhh, kalian tahu tidak ?” senyum Wita semakin terkembang di bibirnya. Ia lalu duduk diantara kedua sahabatnya.
Tahu apa?,” tanya Freya, penasaran.
Aku sedang bahagia!!,” ucap Wita dengan mata berbinar-binar.
Freya bertukar pandang dengan Saski, kedua alisnya terangkat. Saski hanya mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.
Eh, apa rencana kalian malam minggu besok?,” tanya Wita bergantian memandang kedua sahabatnya.
Mmm,… aku …. Malam minggu besok ada acara dengan Ali” jawab Saski malu-malu. “ Pulang sekolah tadi dia baru saja mengajakku “
Yaah, sayang sekali. Padahal aku ingin mengenalkan seseorang,” Wita terdengar sedikit kecewa, ia lalu memandang Freya. Nah, kalau kamu, Frey?”
“Dirumah saja, tidak ada kegiatan hehehe,” jawab Freya sambil meringis menampakkan giginya yang rapi. “Memangnya ada apa, sih?”
“Aku punya ini.” Wita membuka tasnya dan menunjukkan empat lembar karcis kepada mereka. ”Cowokku mendapat tiket gratis untuk pembukaan Central Dream Park, dia memberiku beberapa. Aku ingin mengajak kalian datang ke pembukaan itu.”
“Yaa, Wit. Bagaimana dong? Aku sudah terlanjur janji dengan Ali,” ujar Saski, “Tapi, kenapa tiketnya banyak sekali?”
“Hehehe, ini kan masih promosi. Jadi, Central Dream Park memang sedang membagi-bagikan banyak tiket gratis,” jawab Wita, nyengir.
“Berarti kalau kamu berduaan dengan pacarmu. Aku nganggur, dong? Jadi obat nyamuk,” tukas Freya, “ Masa aku mau ngikutin kalian? Kayak bodyguard.”
“Aku juga mau ikut. Sebuah suara mengejutkan mereka bertiga.
Ya ampun, Dio!” Freya menoleh, kaget, “Sejak kapan berdiri disitu?”
Dio ternyata sudah berdiri menyandarkan bahunya di pohon flamboyan itu sejak tadi.
“Aku juga mau ikut ke Central Dream Park” Dio mengabaikan Freya, menatap Wita, dengan tatapan memohon. “Boleh kan?”
“Woi, kenapa kau harus ikut juga?” tanya Freya, kesal.
Sudahlah, biarkan saja dia ikut” ujar Saski, tersenyum lalu mengedip kepada Freya, “Sekalian untuk menemanimu.”
“Ah… baiklah. Tidak masalah... Hehe… ” jawab Wita, tersenyum. “Tapi, karena ini tiket paket gratis maka kita harus masuk bersama-sama. Tidak masalah kan?”
“Oke, kita ketemu di halte bus dekat sekolah saja. Sampai ketemu besok.” Dio tersenyum dan beranjak pergi sebelum melambai pada mereka bertiga.
Suasana diliputi kegelisahan dan kejengkelan ketika Freya dan Wita duduk menunggu yang lain di halte bus. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, dan Freya sudah membaca bab kedua novel “Harry Potter And The Socerer’s Stone”nya. Tapi, belum terlihat satu orangpun yang menampakkan batang hidungnya. Baik Dio maupun kekasih Wita, yang masih ia rahasiakan namanya.
Freya mendongak memandang Wita yang masih sibuk dengan handphone di tangannya. Ia kembali meneruskan bacaannya, dan terlonjak kaget ketika novelnya dengan tiba-tiba terangkat keatas.
“Hei!!” Seru Freya terkejut.
“Wajahmu jelek sekali,” kata Dio sambil menahan tawa, ia memandang novel yang ia angkat keatas lalu ditatapnya Freya kalau sedang membaca, ekspresimu seperti ini...
Dio membuka novel itu, mengerutkan kening dan menyipitkan matanya memandang novel terbuka di kedua telapak tangannya. Ia lalu tertawa.
Itu berlebihan,” tukas Freya, kesal. “Apanya yang lucu?”
Freya menatap Wita jengkel yang ikut tertawa bersama Dio.
 “Hai, sudah kumpul semua, ya?” seru Saski yang sudah datang bersama Ali.
“Hah..!? Saski, Ali…” pekik Wita, memandang Saski dan Ali, yang berjalan dengan riang kearah mereka.
“Kami juga akan ke Central Dream Park. Hehe…” kata Saski, setelah duduk di sebelah Freya.
 “Kita masih menunggu siapa sih?” tanya Ali, memandang Dio.
“Ah, itu dia” Wita melambaikan tangan dan tersenyum kepada seorang lelaki yang berjalan kearah mereka. Semua mata segera tertuju kepada lelaki yang dilambai Wita.
“Sam ?!” seru Saski dan Freya kaget. Ketika lelaki itu tiba disebelah Wita, yang memandang kedua sahabatnya keheranan.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Wita.
“Eh… mm … ” Saski, salah tingkah.
“Kami dulu satu smp. Kebetulan sekali ya?” jawab Freya, tenang.
“Yup… sebaiknya reuninya kita tunda dulu.” seru Dio, ia menunjuk sebuah bus yang berjalan mendekat kearah mereka. “ Bus kita sudah datang. Tidak ada yang perlu ditunggu lagi, kan?”
“Yup... Ayo..” Freya segera melompat berdiri dari bangku halte. Kemudian, tanpa peringatan pandangannya menjadi gelap, tubuhnya limbung kehilangan keseimbangan. Dio dengan sigap menangkap Freya sebelum terjatuh. Freya berpegangan pada lengan Dio dan salah satu tangannya menekan kepala. Rasa pusing karena bangkit tiba-tiba terasa berdenyut. Ia terdiam sesaat menunggu denyut itu hilang.
Freya membuka kelopak matanya sedikit, samar-samar matanya bertembung langsung dengan mata Dio yang membulat cemas.
 “Frey, .... “ panggil Saski, cemas.
Freya memejamkan matanya lagi beberapa saat mengumpulkan titik-titik cahaya menerobos korneanya. Sekarang ia bisa melihat, Saski sudah berdiri disamping Dio, matanya memancarkan kekhawatiran.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Dio.
“Ah, aku tidak apa-apa.” ujar Freya, tersenyum kepada keduanya. Ia melepaskan pegangannya di lengan Dio. “Hanya darah rendah. Ingatkan aku untuk banyak-banyak makan daging saat makan siang nanti.
Freya berjalan mengikuti Wita dan Sam yang sudah berdiri di depan pintu bus. Dio segera berlari menyusulnya. Saski menoleh memandang Ali, yang tersenyum menenangkannya.
“ Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Dia bukan gadis lemah, kan?” kata Ali, menenangkan Saski. Ia lalu menarik Saski menaiki bus itu.
@@@
 “Kau tidak apa-apa, Frey?tanya Saski, khawatir. Setelah mereka duduk di bangku sebuah kedai. Freya berpaling menatapnya dan tersenyum.
“Hehe... Aku baik-baik saja kok.” jawab Freya ceria,” Ya ampun. Itu kan sudah biasa, Saski. Kamu kan tahu aku darah rendah. Kalo terlalu lama.....”
“Bukan itu maksudku “ potong Saski, gusar.
Freya menatapnya keheranan,” Lalu, kenapa?”
Saski memalingkan muka, Memandang Sam dan Wita yang berjalan menjauh menghilang di keramaian. Freya mengikuti arah tatapan Saski.
Freya membulatkan mulutny membentuk huruf “o”. Ia membuka halaman-halaman Harry Potter And The Socerer’s Stone”nya.
“ Saski, itu sudah menjadi masa lalu” ujarnya.
“Tapi, aku kaget sekali. Ternyata, Sam dijodohkan dengan sahabat kita,” desis Saski, geram. “dia bahkan tidak memandang kita”
“Saski,....” panggil Freya, pelan. Saski memalingkan wajahnya, menatap Freya yang merenung matanya. Freya meletakkan novelnya terbuka di atas meja.
‘Hidup tak selalu sesuai keinginanmu. Selalu ada masalah, namun masalah membawa pengalaman, dan pengalaman membawa kebijaksanaan. Ketika tuhan memberimu masalah, dia tahu bahwa kamu pasti bisa melaluinya. Mungkin akan ada luka, tapi itu semua buatmu dewasa. Jika kamu ingin hidup bahagia, mulailah meninggalkan segala sesuatu yang membuatmu tak bahagia.’ Begitu kata Pak Mario Teguh, kalau aku tidak salah ingat, hehe... “ ujar Freya, mengutip salah satu nasihat dari seorang motivator di televisi.
Freya tersenyum dari atas bukunya. Saski mendengus pelan.
“Ya...ya... baiklah....” Ia bangkit berdiri. Melambaikan tangannya kepada Ali yang mengangkat dua kemasan makanan cepat saji.
“Kami akan makan ditempat lain. Dan kau juga harus membuka hatimu untuk Dio, ya..” kata Saski sambil mengedipkan sebelah matanya dan berlari menghampiri kekasihnya.
 Freya menatap Saski dengan malas. Ia lalu menghela nafas dan menatap ke sekitar. Aku sendirian, Dio lama banget sih,” sungutnya.
Ma’af...antrinya panjang dan lama,” kata Dio, ia meletakkan nampan berisi dua gelas soft drink dan dua bungkus hamberger.
Freya menatap Dio yang duduk di depannya.
“Kenapa?” tanya Dio. Ia mengulurkan sebungkus hamberger kepada Freya.
Nothing. Thanks,” jawab Freya dengan tersenyum menerima hambergernya. Dan mulai melahap roti itu dengan lahap.
“Lho.. Mana Saski dan Ali?” tanya Dio, menatap Freya dengan alis terangkat.
I dunno...” Geleng Freya dengan mulut penuh.
Are you alright?” tanya Dio, memandang Freya, khawatir.
Freya memalingkan wajahnya memandang Dio dengan alis terangkat.
“Ehm.. Yah, aku punya tekanan darah rendah. Hanya itu...”
“Bukan itu...” sanggah Dio, “ Apakah kau ingin pulang? Aku akan mengantarmu, kalau kau ingin pulang”
“Eh.. Kenapa pulang??” tanya Freya, keheranannya bertambah. Ia lalu bangkit berdiri dengan wajah kesal. Kalau kau tidak suka bersamaku. Ya sudah... Aku akan pergi.”
Freya menyambar novelnya yang tergeletak diatas meja. Tapi, Dio lebih cepat, ia menjauhkan novel itu dari jangkauan tangan Freya.
Ya,sudahlah. Aku masuk sendiri saja.” Freya beranjak pergi. Ia sudah malas berdebat dengan Dio. Jangan lupa. Novelku dikembalikan utuh.
Freya baru berjalan beberapa langkah dari kedai makan dan melempar sisa burgernya kedalam tong sampah terdekat dengan wajah masam. Beberapa saat kemudian, Dio berlari menjejerinya.
“Apa kau bawa tiketnya?” tanya Dio dari samping Freya.
Freya merogoh kantong depan tasnya. Ia baru menyadarinya, tiketnya kan masih dibawa Wita... Ya, ampun....
“Tenang saja. Wita tadi menitipkan tiketnya kepadaku”, Dio tersenyum penuh kemenangan, menepuk-nepuk kantong t-shirt nya.
“Mana punyaku?” tanya Freya ketus, ia mengulurkan tangannya di depan Dio. Senyuman Dio makin lebar melihatnya.
“Karena, aku yang memiliki tiketnya. Jadi, aku yang akan menentukan permainannya...” kata Dio. Ia menarik tangan Freya yang terulur, “yang pertama... Kita kerumah hantu...”
“Hei.....” teriak Freya, terkejut. “ Hei... Hei... Kenapa ke sana?”
Freya setengah terseret mengikuti langkah-langkah Dio.
Dio berhenti dan menghadap Freya.
“Kenapa? Kau takut hantu ya..?” tanya Dio. Senyum jahilnya mengembang semakin lebar. Freya memalingkan wajahnya.
“Aku hanya tidak ingin mengingat masa lalu”, jawab Freya, lirih.
“Memangnya kenapa?” tanya Dio penasaran.
“Dulu aku pernah masuk kesana ... Bersama ... Em... Mantanku” jawab Freya, salah tingkah,” aku hanya tidak ingin mengingatnya lagi,”
Dio menghela nafas panjang. Ia memalingkan wajah Freya dan menatap kedua matanya.
“Frey, jangan pernah menyesali masa lalu. Karena, hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan, hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman, kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini. Kadang kala kita sering gagal dalam melakukan segala sesuatu, ingatlah.... No one is perfect, jadi janganlah menyerah dan putus asa karena kegagalan yang kita alami ibarat sedang menumbuhkan akar-akar yang kuat agar suatu hari dapat tumbuh setinggi-tingginya.” kata Dio, tersenyum sok bijak.
Freya tersenyum, mendengar Dio bicara sok bijak begitu.
“Mmm... Kau kelihatan lebih manis kalau tersenyum, hehe..” usik Dio.
Ia lalu menarik Freya menuju ujung sebuah antrian panjang pengunjung.
“ Pertama, kita naik roller coaster...”
“Yah, baiklah.” Freya mengangguk lemah. “ Apapun... Selain hantu”

Rabu, 21 Agustus 2013

Bulan Perak

bulan perak....
bersinar pucat...
menyinari gelapnya malam....
walau dengan asa setipis benang..
serapuh benang laba-laba....
aku masih berharap...

dunia baru...
tanpa dendam,...
tanpa keserakahan dan tanpa pertumpahan darah

dan pastinya..
denganmu ada disisiku..
aku mengharapkan...

dunia damai...
dimana padi menguning dengan subur
petani membajak sawah dengan gembira
mawar mekar dengan indah...

Minggu, 09 Juni 2013

PUISI PERCOBAAN ^-^

Secercah Asa

Dengan secercah cahaya asa dan harapan
Aku berjalan menyusuri kabut keraguan
Dalam rasa kesepian dan kehampaan
Telah menjelma dalam kegelapan

Bulan yang bersembunyi dibalik awan
Pantaskah burung kecil ini
Untuk menghirup sedikit asa kehidupan?
Meski sakit dan luka disetiap sendi

Titik air jatuh membasahi inchi bumi
Perlahan namun pasti
Awan gelap mulai menepi
Sang rembulan pun mulai berseri

Kamis, 30 Mei 2013

masih jaman SMK...dan masih tugas sekolah ..kayaknya... :P

The Rainbow In Your Eyes

          Nayne duduk bersama Awan diperpustakaan, sementara di luar matahari bersinar hangat, kadang redup tertutup awan, membaca halaman demi halaman buku materi tebal. Ia mulai merasa bosan dan mengantuk. Ia memandang Awan dihadapannya yang serius menyalin catatan-catatan dari buku setebal seribu halaman di depannya. Nayne mendesah dan mengistirahatkan kepalanya, menelungkup diatas buku tebal  Easy Networking.
          “Kau sakit ya, Nay?,” terdengar suara Awan. ”Atau malah bosan ?”
          “Aku hanya sedikit pusing,” gumam Nayne lelah. ”Lapar dan meng....”
Nayne berhenti bicara karena Awan telah meletakkan tangannya diatas dahi Nayne, mengeceknya. Nayne mendongak dan langsung bertatapan dengan wajah Awan. Dia langsung melompat berdiri dengan muka merona merah, wajah mereka tadi dekat sekali.
          “Aku tidak apa-apa... Ayo,kita keluar dan cari sesuatu untuk makan siang...” katanya, sambil memasukkan buku-buku dengan asal ke dalam tasnya.
          “Aku tahu tempat yang nyaman untuk belajar.Ayo....,” ajak Awan,menyambar pergelangan tangan Nayne dan menyeretnya keluar dari perpustakaan.

JJJ
          Hujan turun deras menyelimuti sekolah dan halamannya sekarang. Nayne berdiri gemetar disamping sebuah mobil sport hitam. Dia tiba ditempat parkir sekolah lebih cepat 10 menit dari seharusnya. Ia mengalihkan perhatiannya ke mobil hitam disampingnya.
            “Huuh...pasti nyaman dan hangat berada didalamnya,” batinnya jengkel.
Terdengar deru motor,Nayne langsung menoleh.
            “Sudah lama ya?,” tanya Awan setelah turun dari motornya, ”Apa yang ingin kau bicarakan?,” tanyanya melangkah mendekati Nayne.
            “Aku hanya ingin kau menjelaskan kepada pacarmu bahwa kita hanya berteman dan jangan pernah mengganggu hidupku,” jawab Nayne tanpa basa basi.
            “Ha?! Pa...pacarku???”
            “Yep,beberapa hari terakhir,dia menelponku dan memaki-maki menuduh aku merebut kamu dari pelukannya,” Nayne memberi tekanan pada kata aku dan kamu.
            “Eh..?!Tunggu,aku juga dapat telepon seperti itu dari seseorang yang mengaku pacarmu.....bahkan aku ditantang untuk berkelahi dilapangan bola....,”tukas Awan.
            “Hah?!? Pacar siapa?? Aku tidak punya pacar...,”
            “O....jadi begitu,”gumam Awan,melepas jaketnya dan menyampirkannya dibahu
“Dengar...,Wan. Aku tidak suka dituduh merebut cowok orang lain,.....”
”Kalau begitu, langsung tutup teleponnya kalau dapat lagi ... kau tahu....banyak cowok tampan dan keren dikelas Teknik  B,kan?,”
            “Dan apa maksudmu?,” tanya Nayne,tajam.
            “Kau kan bisa berkencan dengan teman kelasmu untuk ... “
            “Kenapa kau berpikiran begitu. . .”tanya Nayne,dingin.
            “Bukannya itu tujuanmu? Sama dengan gadis lain? Cowok keren dan . . .”
            “Plak....”
            Nayne menampar Awan sebelum berlari menerobos hujan sekilas Awan melihat air matanya  berlinangan.

JJJ
            Setelah itu, Nayne bersikap sangat dingin kepada Awan di sekolah, satu kali jam istirahat sudah cukup untuk membuktikan ini. Awan berpikir jelas dia marah kepadanya. Nayne tidak bicara kepadanya walaupun mereka mengambil kue tart radi nampan yang sama di kantin sekolah.

JJJ
            “Dulu Ayne,bukan gadis periang seperti yang kau kenal sekarang. Saat masih kelas VI SD orang tuanya bercerai. Tapi,meskipun masih anak-anak,ia telah memahami semuanya... dan hatinya ikut hancur bersama kebahagiaan keluarganya...aku tak pernah lagi melihatnya tertawa ataupun menangis... Tapi,ia terlihat sangat gembira saat bersamamu...aku selalu mengawasi kalian...kau adalah satu-satunya orang yang bisa menghidupkan tawanya,hal yang tidak bisa kulakukan sebagai sahabatnya selama 5 tahun terakhir...Jadi, jika kau membuatnya terluka dan menangis lagi ... Aku tidak akan mema’afkanmu, walaupun Soka yang memohon. Karena,Nayne penting bagiku,” suara Narita, sahabat Nayne, terus terngiang ditelinga Awan.

JJJ
Mereka sudah sampai dirumah sakit. Setelah memarkir mobil,Soka segera berlari masuk ke dalam diikuti oleh Awan. Mereka akhirnya sampai disebuah kamar yang diatas pintu bertulis Sakura 1306. Mereka masuk kedalam.
            “Nayne...,”gumam Awan, kaget, berlari mendekat.
Nayne terbaring dengan wajah pucat, disamping ranjangnya Narita, sahabat Nayne dan kekasih Soka, memandangnya dengan wajah sedih dan menggelengkan kepalanya yang cantik. Ia menangis didalam tangannya, Soka segera memeluknya dan setengah memapah dia membawa Narita keluar dari ruangan itu. Awan menggenggam tangan Nayne, tangannya dingin. Ia merasa sangat sedih. Nayne adalah sahabat yang paling dicintainya. Walau ia tidak pernah mengakuinya.
            Sekarang Awan berlutut disamping ranjang Nayne. Dengan hati yang pedih ia berbisik ditelinga Nayne, ”Nay,aku mencintaimu. Tolong jangan tinggalkan aku ya....”.Ia merasa sangat sedih dan menyesal.” Ma’af selama ini aku tidak adil kepadamu...sering membuatmu sedih dan menangis...aku....”
            “Berisik sekali...”gumam Nayne, duduk diatas ranjangnya, sebelah tangannya memegang kepalanya yang dibalut perban dan memandang Awan yang kaget.
            Awan langsung memeluk Nayne, dan berbisik ditelinganya,
”Aku mencintaimu...aku...takut sekali akan kehilanganmu....Ma’afkan aku...”
“Kau apa-apaan sih?” tukas Nayne, berusaha mendorong tubuh Awan menjauh darinya.
“Bagaimana keadaanmu? Ini salahku .... ” ucap Awan, melepas pelukannya.
“Kau kenapa sih ?”,tanya Nayne, mengerutkan keningnya heran.
” Aku cuma terserempet mobil. Besok juga aku sudah rawat jalan.
Wow . . .lihat. Pelangi.....” tambahnya menunjuk jendela.
Ia melempar kakinya turun dari ranjang dan terhuyung kedalam pelukan Awan yang telah berdiri dihadapannya. Rasa sakit dikakinya yang tadi tak dirasakannya,sekarang menyerangnya sepenuhnya.
”Ouch. . .ma’af aku lupa kalau kakiku juga retak,hehehe....”
“Dasar selalu begitu. . .kau tetap keras kepala ya ...”
Nayne tersenyum,meraih tongkat penyangga kakinya,memandang Awan dan berkata,
“Mau ikut ke taman... disamping rumah sakit ini,tidak jauh kok”
“Tidak apa-apa ” tambah Nayne, ketika Awan memegang lengannya dan membimbingnya menyusuri koridor. ” Besok aku kan sudah rawat jalan.”
Mereka telah tiba di taman rumah sakit. Nayne berdiri disangga tongkatnya dibawah naungan pohon flamboyan, menginjak rumput rendah yang basah oleh gerimis tadi pagi.
“Indah sekali ya...” desahnya kagum, mendongkkan kepalanya memandang pelangi di langit.“Rasanya lebih indah dibanding waktu kita melihatnya saat di bukit itu”
“Ya,kau benar,Nay.Tapi,kupikir lebih indah pelangi dimatamu,Nay”
“Eh...?!?”
            Awan berdiri dihadapan Nayne,memeluknya. Nayne merasa taman bunga itu mendadak bertambah harum semerbak seribu kali lipat.
            “Bolehkah aku melihat pelangi itu dalam sisa hidupku,Nayne?,”bisiknya ditelinga Nayne. Awan melepas pelukannya dan memegang kedua lengan Nayne.
            Nayne memandang mata hitam Awan, dia  melihat pelangi yang paling indah didalamnya dan ia tidak lagi merasakan sakit dikakinya. Karena ia merasa terbang meniti pelangi layaknya para bidadari yang pulang ke negeri khayangan.
            “Woi...stop...!”terdengar teriakan Soka, membanting khayalan mereka, dan Awan serta Nayne saling melepaskan diri. Nayne langsung terhuyung, Awan segera memegang lengannya dan memapahnya ke kursi taman.
            “Nah,...kau belum sehat kan? Kenapa malah keluar kamar untuk berpelukan dengan Awan, begitu ?” tuntut Narita, duduk disamping Nayne, tapi ia tersenyum geli. ”Ngomong-ngomong, bagaimana akting kami ? Keren kan ?”
            “Apa maksudmu, Narita?” tanya Awan, heran.
            “Ehmmm.....kamilah yang meneror kalian beberapa hari yang lalu” jawab Soka.
            “Yap....kalian berhutang kepada kami, karena kamilah kalian bisa saling mengetahui perasaan kalian yang sesungguhnya.....Ouch.....” kata Narita, ketika Nayne menginjak kakinya.
            “Kenapa kalian......?” tanya Awan, keheranannya bertambah.
            “Karena,...kalian menggemaskan saling mencintai tapi tidak pernah saling mengungkapkan. Kalian sama-sama pemalu. Menyebalkan.....” jawab Narita geli.

            “Lalu, Nayne malah kecelakaan. Jadi, kami pikir bisa untuk menguji perasaanmu,...” lanjut Soka. 
                   JJJ